Reog merupakan salah satu kesenian budaya asli dari
kota kecil yaitu Ponorogo. Kesenian tradisional ini kerap kali menjadi
perdebatan oleh negara tetangga yaitu Malaysia yang yang dulu mengeklaim bahwa
Reog merupakan kebudayaan asli negara mereka, namun pihak Indonesia mampu
menyelamatkan budaya Reog tersebut dengan mendaftarkan kepada PBB dan secara
sah kebudayaan milik Indonesia.
Pada dasarnya Reog
terbuat dari rangkaian kulit babmu yang di bentuk sedemikian rupa sehingga
menyerupai Singa yang memiliki bulu di leher yang begitu lebat, dan hiasan yang
pakai dalam menghias reog adalah bulu burung Merak dan kulit Macan. Bulu burung
merak di dapat dari hasil pemeliharaan yang terdapat di alas ngawi yang
kemudian di awetkan oleh para pengrajin reog tersebut. Kemudian kulit macan
yang di pakai untuk hiasan kepala reog diperoleh dari kulit macan yang sudah
mati, maksud dari kulit macan yang sudah mati ialah macan yang mati dengan
sendirinya tanpa campur tangan manusia sehingga dengan begitu tidak melanggar
undang-undang yang berlaku di indonesia.
Dalam pementasan
Reog Ponorogo ini dilakukan dengan cara mengangkat Reog dan di gigit di bagian
belakang kepalanya sehingga mirip singa yang sedang berdiri dan di atasnya
terdapat burung merak yang duduk di leher kepala singa.
Kebudayaan ini
sering di jumpai pada berbagai macam perayaan di berbagai plosok daerah bukan
di Ponorogo saja melainkan di berbagai daerah di Indonesia. Dan setiap tahun
sekali Ponorogo sebagai pusat kebudayaan Reog menggelar Festival Kesenian Reog
Indonesia yang di ikuti berbagai daerah penjuru Indonesia. Sehingga dengan
adanya festival tersehut membuat kesenian Reog ini tetap bertahan di kalangan
masyarakat dan tidak termakan oleh globalisasi zaman.